buku tamu

السنتري

بشاهد حاله هو من يعتصم بحبل الله المتين ويتبع سنة الرسول الامين صلى الله عليه وسلم ولا يميل يمنة ولا يسرة في كل وقت وحين هذا معناه بالسيرة والحقيقة لا يبدل ولا يغير قديما وحديثا. والله اعلم بنفس الامر وحقيقة الحال.قاله المغفور له حضرة الشيخ حسني بن نووي SANTRI. Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya, adalah orang yang berpegang teguh pada Alqur’an dan mengikuti sunnah Rasul SAW dan teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan dirubah selama-lamanya. Allah yang maha mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya. oleh: almaghfur lah kiai Hasani Nawawi

ajari anakmu cara belajar

jangan cuma bisa menyuruh anak belajar tanpa mengajarinya cara belajar, orang tua yang sukses mendidik anaknya bukan mereka yang hanya mampu membiayai sekolah anaknya semata...

Dunia merupakan ladang bagi Akhirat

Sesungguhnya dunia adalah negeri persinggahan bukan negeri untuk menetap, dunia adalah tempat yang penuh dengan duka cita bukan tempat tinggal untuk bersuka cita....

Ajari anakmu tentang agama sejak dini

Anak adalah anugerah dari Allah SWT. Sebagai amanah yang diberikan khususnya kepada setiap orangtua yang menjadi perantara bagi lahirnya si mungil ke dunia ini...

arti sebuah senyuman

senyum adalah sedekah, akan tetapi jaman sekarang sudah banyak orang yang melupakan hakikat dan hikmah dibalik sebuah senyuman...

Ajari anak anda mengontrol emosi

Selalu saja ada perkelahian antara saudara kandung, teman, kerabat, orang tua, anak-anak, bahkan orang asing sekalipun. Dari pada mengganggap bahwa konflik itu tidak terjadi, coba gunakan cara...

Minggu, 13 November 2011

Sahabat Abu Bakar As-Shidiq


“Penghulu Para sahabat”

Shalat subuh hari itu tak seperti biasanya. Rasulullah yang biasa memimpin sholat subuh berjamaah tidak bisa hadir dikarenakan sakit. Mata teduh Rasulullah yang setiap kali menyapa wajah sahabat sebelum shalat, pagi itu tidak ada. Abu Bakar yang menjadi orang kedua setelah Rasulullah, telah bersiap-siap untuk menjadi imam pengganti dengan segala keberatan hati. Namun ketika hendak melakukan sholat, terlihat Rasulullah menyibak tirai kamar Aisyah. Sebagian sahabat mengira bahwa Rasulullah akan memimpin shalat seperti biasa. Abu Bakar pun mundur dan masuk ke dalam shaf makmum. Tapi dugaan mereka salah, dari dalam kamar Rasulullah melambaikan tangan, memberi isyarat agar shalat diteruskan dan Abu Bakar menjadi pemimpinnya. Rasulullah menutup kembali tirai jendela dengan gerakan sangat lemah.

Seluruh jamaah seperti tercekam hati dan perasaannya, mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah sudah tiba waktunya Rasulullah meninggalkan kita semua. Ketika hari beranjak siang, sakit Rasulullah pun bertambah berat. Disisinya, Fatimah menemani sampai detik-detik terakhir. Rasulullah sempat membisikkan kata-kata kepada Fatimah, “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini”. Kemudian pupuslah bunga hidup manusia mulia itu. Dan kabar sedih itu pun cepat sekali menyebar.

Pada suatu tempat, di sebuah dataran tinggi, tampak debu mengepul dengan dahsatnya. Terlihat seekor kuda sedang dipacu Abu Bakar dengan kencangnya. Ia berhenti di depan masjid dan melompat turun masuk kedalam masjid dan langsung menemui Aisyah. Dan kemudian melihat tubuh yang terbujur kaku dipembaringan dengan kain penutup warna hitam. Sebentar dibukanya kain penutup itu, dan dipeluknya jasad Rasulullah. Dan tangisnya pun meledak.

Kemudian Abu Bakar keluar dari rumah dan mendapati Umar berdiri menancapkan pedangnya dan berkata, “siapa saja yang berkata Rasulullah meningal, akan saya potong kaki dan tangannya. Kematian Rasulullah belum bisa diterimanya. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang, Abu Bakar tampak bersiap-siap berkata, “ Barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi jika kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tak pernah meninggal.”

Abu Bakar berhenti sejenak,kemudian melanjutkan lagi. Kini Ia melantunkan ayat…

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن
يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul pakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [3:144]

Semua orang termenung, menundukkan kepala dalam-dalam. Ayat yang dibacakan Abu Bakar telah manyadarkan mereka. Seakan-akan ayat ini tak pernah turun sebelum dibacakan Abu Bakar. Umar terjatuh, kedua kakinya seakan tak sanggup menyangga berat badanya. Lututnya tertekuk, tangannya menggapai pasir.

Di kemudian hari, Umar berkata, “Demi Allah, setelah mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, saya seperti limbung, hingga saya tak kuasa menahan kedua kaki saya dan saya pun tertunduk ke tanah saat mendengarnya. Kini saya sudah tahu bahwa Rasulullah telah meningal dunia.”

Demikianlah Abu Bakar, disaat banyak orang lemah ia berusaha untuk tetap tegar. Ia seperti sebuah oase bagi musafir ditengah sahara. Ia seperti embun pagi yang menyejukkan saat dada dan kepala sedang terbakar. Abu Bakar adalah telaga kebijakan.

Abu Bakar termasuk pelopor muslim pertama. Ia adalah orang yang mempercayai Rasulullah disaat banyak orang menganggap beliau gila. Abu Bakar termasuk orang yang siap mengorbankan nyawanya untuk membela Rasulullah, disaat banyak orang hendak membunuh Rasulullah. Nama awal Abu Bakar sebenarnya Abdullah bin Abu Quhafah. Dalam literature lain disebutkan bahwa nama Abu Quhafah bukan nama sebenarnya. Utsman bin Amir adalah nama lain Abu Quhafah..

Sebelum islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah. Ada cerita menarik tentang nama ini. Ummul Khair, ibunda Abu Bakar sebelumnya beberapa kali melahirkan anak laki-laki, namun meninggal. Sampai kemudian hari ia bernadzar bahwa ia akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk mengabdi pada Ka’bah. Dan lahirlah Abu Bakar kecil.

Setelah Abu Bakar lahir dan besar, ia diberi nama Atiq. Nama ini diambil dari nama lain ka’bah, Baitul Atiq yang berarti rumah purba. Setelah masuk islam , Rasulullah memanggilnya dengan nama Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dari predikat pelopor dalam islam. Dan Bakar berarti dini atau awal.

Kelak sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin mengangkatnya sebagai khalifah pengganti Rasulullah. Tidak mengherankan, karena sebelum Rasulullah meninggal dunia pun , Abu Bakar telah menjadi orang kedua setelah Rasulullah. Rasulullah secara tak langsung memilih Abu Bakar menjadi orang kedua beliau.

Suatu hari Rasulullah pernah mengabarkan tentang keutamaan sahabat sekaligus mertua beliau ini, “Tak seorangpun yang pernah saya ajak masuk islam , yang tidak tersendat-sendat dengan begitu ragu dan berhati-hati, kecuali Abu Bakar. Ia tidak ragu-ragu ketika saya sampaikan ajaran islam,” Sabda Rasulullah.

Hal ini juga yang akhirnya beliau memberikan julukan As-Sidiq dibelakang nama Abu Bakar yang berarti selalu membenarkan, tanpa sedikit keraguan. Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, Abu Bakar adalah orang yang pertama yang percaya saat Rasulullah menyampaikan hal itu tanpa sedikit keraguan.

Abu Bakar hanya sebentar memegang kendali pemerintahan islam setelah Rasulullah. Ia wafat dalam keadaan sakit. Pada detik-detik akhir hidupnya, Abu Bakar menuliskan sebuah wasiat untuk semua yang ditinggalkan. Demikian isinya :

Bismillahirrahmanirrahim. Inilah pesan Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir hayatnya dengan keluarnya dari dunia ini, untuk memasuki akhirat dan tinggal disana. Ditempat ini orang kafir akan percaya, orang yang berdusta akan membenarkan. Saya menunjuk pengganti saya yang akan memimpin kalian adalah Umar bin Khaththab. Patuhi dan taati dia. Saya tidak akan mengabaikan segala yang baik sebagai kewajibanku kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada agama, kepada diriku dan kepada kamu sekalian. Kalau dia berlaku adil, itulah harapanku, dan itu juga yang ku ketahui tentang dia. Tetapi kalau dia berubah, maka setiap orang akan memetik hasil dari perbuatannya sendiri. Yang saya kehendaki adalah yang terbaik dan saya tidak mengetahui segala yang ghaib. Orang yang dzalim akan mengetahui perubahan yang mereka alami. Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. “semoga Allah merahmati dan menempatkan pada sisi yang terbaik. Amiin. (vr)

Jumat, 11 November 2011

Sahabat Abu Bakar As-Shidiq


“Penghulu Para sahabat”

Shalat subuh hari itu tak seperti biasanya. Rasulullah yang biasa memimpin sholat subuh berjamaah tidak bisa hadir dikarenakan sakit. Mata teduh Rasulullah yang setiap kali menyapa wajah sahabat sebelum shalat, pagi itu tidak ada. Abu Bakar yang menjadi orang kedua setelah Rasulullah, telah bersiap-siap untuk menjadi imam pengganti dengan segala keberatan hati. Namun ketika hendak melakukan sholat, terlihat Rasulullah menyibak tirai kamar Aisyah. Sebagian sahabat mengira bahwa Rasulullah akan memimpin shalat seperti biasa. Abu Bakar pun mundur dan masuk ke dalam shaf makmum. Tapi dugaan mereka salah, dari dalam kamar Rasulullah melambaikan tangan, memberi isyarat agar shalat diteruskan dan Abu Bakar menjadi pemimpinnya. Rasulullah menutup kembali tirai jendela dengan gerakan sangat lemah.

Seluruh jamaah seperti tercekam hati dan perasaannya, mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah sudah tiba waktunya Rasulullah meninggalkan kita semua. Ketika hari beranjak siang, sakit Rasulullah pun bertambah berat. Disisinya, Fatimah menemani sampai detik-detik terakhir. Rasulullah sempat membisikkan kata-kata kepada Fatimah, “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini”. Kemudian pupuslah bunga hidup manusia mulia itu. Dan kabar sedih itu pun cepat sekali menyebar.

Pada suatu tempat, di sebuah dataran tinggi, tampak debu mengepul dengan dahsatnya. Terlihat seekor kuda sedang dipacu Abu Bakar dengan kencangnya. Ia berhenti di depan masjid dan melompat turun masuk kedalam masjid dan langsung menemui Aisyah. Dan kemudian melihat tubuh yang terbujur kaku dipembaringan dengan kain penutup warna hitam. Sebentar dibukanya kain penutup itu, dan dipeluknya jasad Rasulullah. Dan tangisnya pun meledak.

Kemudian Abu Bakar keluar dari rumah dan mendapati Umar berdiri menancapkan pedangnya dan berkata, “siapa saja yang berkata Rasulullah meningal, akan saya potong kaki dan tangannya. Kematian Rasulullah belum bisa diterimanya. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang, Abu Bakar tampak bersiap-siap berkata, “ Barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi jika kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tak pernah meninggal.”

Abu Bakar berhenti sejenak,kemudian melanjutkan lagi. Kini Ia melantunkan ayat…

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن
يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul pakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [3:144]

Semua orang termenung, menundukkan kepala dalam-dalam. Ayat yang dibacakan Abu Bakar telah manyadarkan mereka. Seakan-akan ayat ini tak pernah turun sebelum dibacakan Abu Bakar. Umar terjatuh, kedua kakinya seakan tak sanggup menyangga berat badanya. Lututnya tertekuk, tangannya menggapai pasir.

Di kemudian hari, Umar berkata, “Demi Allah, setelah mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, saya seperti limbung, hingga saya tak kuasa menahan kedua kaki saya dan saya pun tertunduk ke tanah saat mendengarnya. Kini saya sudah tahu bahwa Rasulullah telah meningal dunia.”

Demikianlah Abu Bakar, disaat banyak orang lemah ia berusaha untuk tetap tegar. Ia seperti sebuah oase bagi musafir ditengah sahara. Ia seperti embun pagi yang menyejukkan saat dada dan kepala sedang terbakar. Abu Bakar adalah telaga kebijakan.

Abu Bakar termasuk pelopor muslim pertama. Ia adalah orang yang mempercayai Rasulullah disaat banyak orang menganggap beliau gila. Abu Bakar termasuk orang yang siap mengorbankan nyawanya untuk membela Rasulullah, disaat banyak orang hendak membunuh Rasulullah. Nama awal Abu Bakar sebenarnya Abdullah bin Abu Quhafah. Dalam literature lain disebutkan bahwa nama Abu Quhafah bukan nama sebenarnya. Utsman bin Amir adalah nama lain Abu Quhafah..

Sebelum islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah. Ada cerita menarik tentang nama ini. Ummul Khair, ibunda Abu Bakar sebelumnya beberapa kali melahirkan anak laki-laki, namun meninggal. Sampai kemudian hari ia bernadzar bahwa ia akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk mengabdi pada Ka’bah. Dan lahirlah Abu Bakar kecil.

Setelah Abu Bakar lahir dan besar, ia diberi nama Atiq. Nama ini diambil dari nama lain ka’bah, Baitul Atiq yang berarti rumah purba. Setelah masuk islam , Rasulullah memanggilnya dengan nama Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dari predikat pelopor dalam islam. Dan Bakar berarti dini atau awal.

Kelak sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin mengangkatnya sebagai khalifah pengganti Rasulullah. Tidak mengherankan, karena sebelum Rasulullah meninggal dunia pun , Abu Bakar telah menjadi orang kedua setelah Rasulullah. Rasulullah secara tak langsung memilih Abu Bakar menjadi orang kedua beliau.

Suatu hari Rasulullah pernah mengabarkan tentang keutamaan sahabat sekaligus mertua beliau ini, “Tak seorangpun yang pernah saya ajak masuk islam , yang tidak tersendat-sendat dengan begitu ragu dan berhati-hati, kecuali Abu Bakar. Ia tidak ragu-ragu ketika saya sampaikan ajaran islam,” Sabda Rasulullah.

Hal ini juga yang akhirnya beliau memberikan julukan As-Sidiq dibelakang nama Abu Bakar yang berarti selalu membenarkan, tanpa sedikit keraguan. Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, Abu Bakar adalah orang yang pertama yang percaya saat Rasulullah menyampaikan hal itu tanpa sedikit keraguan.

Abu Bakar hanya sebentar memegang kendali pemerintahan islam setelah Rasulullah. Ia wafat dalam keadaan sakit. Pada detik-detik akhir hidupnya, Abu Bakar menuliskan sebuah wasiat untuk semua yang ditinggalkan. Demikian isinya :

Bismillahirrahmanirrahim. Inilah pesan Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir hayatnya dengan keluarnya dari dunia ini, untuk memasuki akhirat dan tinggal disana. Ditempat ini orang kafir akan percaya, orang yang berdusta akan membenarkan. Saya menunjuk pengganti saya yang akan memimpin kalian adalah Umar bin Khaththab. Patuhi dan taati dia. Saya tidak akan mengabaikan segala yang baik sebagai kewajibanku kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada agama, kepada diriku dan kepada kamu sekalian. Kalau dia berlaku adil, itulah harapanku, dan itu juga yang ku ketahui tentang dia. Tetapi kalau dia berubah, maka setiap orang akan memetik hasil dari perbuatannya sendiri. Yang saya kehendaki adalah yang terbaik dan saya tidak mengetahui segala yang ghaib. Orang yang dzalim akan mengetahui perubahan yang mereka alami. Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. “semoga Allah merahmati dan menempatkan pada sisi yang terbaik. Amiin. (vr)

Rahasia Penaklukan Konstantinopel


Menembus Eropa
Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah saw dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik dan membebaskan Konstantinopel agar terbebas dari kekuasaan Romawi.
Sudah sejak Rasulullah saw masih hidup, beliau sudah berupaya menjadikan penguasa di Konstatinopel menjadi muslim. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi saw telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.
Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius raja Romawi.
Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda, Amma ba’du,
Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam lah Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Tapi kalau Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”
Dikabarkan bahwa saat menerima surat ajakan masuk Islam itu, Kaisar Heraklius cukup menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk memeluk Islam.

Di masa shahabat, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, Khalid bin Walid dikirim sebagai panglima perang menghadapi pasukan Romawi. Khalid memang mampu membebaskan sebagian wilayah Romawi dan menguasai Damaskus serta Palestina (Al-Quds). Tapi tetap saja ibukota Romawi Timur saat itu, Konstantinopel, masih belum tersentuh.
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan yang merebut Al-Quds sekalipun, ternyata masih belum mampu membebaskan Konstantinopel. Padahal beliau pernah mengalahkan serangan tentara gabungan dari Eropa pimpinan Richard The Lion Heart dalam perang Salib. Ternyata membebaskan kota warisan Kaisar Heraklius bukan perkara sederhana. Dibutuhkan kecerdasan, keuletan dan tentunya, kekuatan yang mumpuni untuk pekerjaan sebesar itu.
Dan ternyata Sultan Muhammad Al-Fatih orangnya. Beliau adalah sosok yang telah ditunggu umat Islam sepanjang sejarah menunggu-nunggu realisasi hadits syarif Muhammad saw.
Tidak mudah memang untuk membebaskan Istanbul yang sebelumnya bernama Konstantinopel ini. Kotanya cukup unik, karena berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di tengah kota ada selat Bosporus yang membentang, ditambah benteng-benteng yang cukup merata.
Tetapi Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah menyerah. Sejarah mencatat beliau telah memerintahkan para ahli dan insinyurnya untuk membuat sebuah senjata terdahsyat, yaitu sebuah meriam raksasa. Suaranya saja mampu menggetarkan nyali lawan dan berpeluru logam baja. Meriam ini mampu menembak dari jarak jauh serta meluluh-lantakkan benteng Bosporus.

Sejarah Kecintaan Pada Suku atau Bangsa


Kaum Yahudi adalah kaum yang sering berbuat dosa baik pada zaman nabi-nabi terdahulu atau pada masa saat Nabi Muhammad SAW. Mereka selalu melanggar syari'at agama mereka sendiri, tetapi tahukah anda bahwa Yahudi sangat membanggakan nama baik nenek moyang mereka. Nenek moyang mereka pada masa Nabi Ya'kub, Ishak,Yusuf, Musa,Daud, Sulaiman telah membuat sejarah harum bagi umat Yahudi; sedangkan mereka sendiri pada masa Rosulullah telah berbuat dosa yang bermacam-macam. Antara lain memutar balikkan ayat Taurat, mengelabui masyarakat, memakan riba dan lain sebagainya. Walaupun begitu mereka merasa menjadi orang baik dan umat pilihan, karena nenek moyang mereka adalah orang-orang pilihan Allah. Prestasi nenek moyang umat yahudi ini memenuhi kisah-kisah Taurat dan Injil.Kebesaran nenek moyang mereka inilah yang selalu mereka ceritakan pada bangsa-bangsa lain, baik pada masa Rasulullah maupun pada masa kini. Banyak Nabi dan Rasul yang Allah utus membawa agama-Nya berasal dari kalangan bangsa Yahudi. Namun bagaimana kelakuan mereka sendiri pada masa Rasulullah SAW.? Mereka dikenal sebagai umat yang berperilaku sangat buruk. Bahkan hingga saat ini kita dapat menyaksikan bagaimana kekejaman bangsa Israil terhadap penduduk dan rakyat palestina. Juga kekejaman banker-bankir Yahudi dalam memeras bangsa-bangsa lain yang meminjam uang dari mereka.
Kebanggaan bangsa Yahudi terhadap kecemerlangan nenek moyang mereka dipakai kedok untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan sekarang ini. Masyarakat terpukau dengan kebesaran sejarah nenek moyang bangsa Yahudi pada masa lalu; dan hal inilah yang mereka manfaatkan untuk membangun kebesaran diri mereka dewasa ini, sekalipun mereka sekarang menjadi benalu masyarakat dunia dengan system rentedan riba.
Kisah bangsa Yahudi yang selalu membanggakan prestasi nenek moyangnya termaktub dalam Surat Al Baqoroh ayat 200. Namun sifat seperti itu bukan hanya dimonopoli oleh orang Yahudi saja, Bangsa arab Jahiliyah, suku Quraisy khususnya pada musim haji dahulu ketika wukuf di arafah berlomba-lomba menceritaka sejarah kebesaran Nenek moyang mereka. Hal ini tidak saja mereka lakukan untuk menanamkan pada generasi berikutnya kecintaan kepada suku dan bangsanya, tetapi untuk membangkitkan harga diri mereka di tengah-tengah suku dan bangsa lain. Dengan mengidentifikasikan diri kepada nenek moyang mereka yang dianggap hebat, maka sebagai anak keturunannya mereka merasa terangkat eksistensinya. Karena itu, kecenderungan membanggakan Bapak atau Nenek moyang tidak hanya melekat pada bangsa tertentu saja, tetapi melekat pada semua bangsa di muka bumi ini.  sumber

Riwayat Hidup Muhammad Sebelum Dibangkitkan Menjadi Nabi dan Rasul

Siapa mukmin yang tidak rindu ingin bertemu dengan Rasulullah saw. Jika bertemu, pasti kita ingin memeluknya. Seperti apa ciri fisik Rasulullah saw.?

Ciri Fisik Rasulullah SAW

Ali bin Abi Thalib r.a. memerinci ciri fisik Rasulullah saw., “Nabi Muhammad saw. tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Berpostur indah di kalangan kaumnya, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan. Badannya tidak tambun, wajah tidak bulat kecil, warna kulitnya putih kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang. Tulang kepalanya dan tulang antara kedua pundaknya besar, bulu badannya halus memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit, kedua telapak tangan dan telapak kakinya tebal.

Apabila berjalan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, beliau menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang beliau adalah penutup para nabi. Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.”

Setiap orang yang bertemu Rasulullah saw. pasti akan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya.” Begitulah Rasulullah saw. di mata khalayak, sebah beliau berakhlah sangat mulia seperti yang digambarkan Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Nasab Rasulullah SAW

Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab. Rasulullah saw. memiliki silsilah yang berujung pada Adnan anak keturunan Nabi Ismail a.s. Semuanya dikenal sebagai orang-orang yang mulia dan shalih. Tak heran jika Rasulullah saw. adalah anak Adam yang paling mulia kehormatan dan paling utama nasabnya. “Aku adalah manusia pilihan dari di antara manusia pilihan dari di antara manusia pilihan.”

Rasulullah saw. adalah putra semata wayang Abdullah, anak terakhir Abdul Muthallib. Abdul Muthalllib pernah bernazar, jika dikaruniai 10 anak lelaki, ia akan menyembelih satu orang di antaranya untuk Allah. Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah. Ketika Abdul Muthallib akan memenuhi nazarnya, kaumnya bermusyawarah dan menawarkan kepadanya agar menebus putra bungsunya itu dengan 100 ekor unta atau serata dengan diat 10 orang budak.

Abdullah wafat saat Rasulullah saw. masih dalam kandungan Aminah, ibunya. Aminah adalah anak Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Rasulullah saw. lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Aminah mengirimkan bayinya ke Abdul Muthallib. Lantas Abdul Muthallib membawa bayi yang dinamainya Muhammad itu berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Tahun Gajah

Tahun Gajah, apa maksudnya? Di tahun kelahiran Rasulullah saw. ada peristiwa besar di Mekkah. Abrahah Al-Habsyi seorang panglima perang kebangsaan Habasyah (Ethiopia) berkuasa di sebagai Gubernur Yaman di bawah pemerintahan Raja Najasyi, Raja Habasyah. Ia membangun sebuah gereja besar yang diberi nama Al-Qallais. Abrahah ingin gerejanya itu menjadi kiblat seluruh bangsa Arab.
Seorang pria dari Bani Kinanah mendengar obsesi Abrahah itu. Ia pergi ke Yaman dan menyelinap ke dalam gereja itu di malam hari. Ia buang air besar kemudian membuang kotorannya di kiblat gereja itu.

Mengetahui itu, Abrahah marah. Ia bersumpah akan pergi ke Mekkah dan menghancurkan Ka’bah. Abrahah mengerahkan tentara dan pasukan gajahnya. Namun, perjalanan pasukan gajah ini terhenti di Mina. Allah swt. membinasakan pasukan itu dengan mengirimkan serombongan Burung Ababil yang melemparkan kerikil mematikan. Tahun terjadinya peristiwa itu dinamakan Tahun Gajah.

Ibu Susu Rasulullah SAW

Sudah menjadi tradisi kalangan terpandang Arab, bayi-bayi mereka disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Rasulullah saw. ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Mekkah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah. Tapi mereka menolak karena Rasulullah saw. anak yatim. Namun Halimah Sa’diyah tidak mendapatkan seroang bayi pun yang akan disusui. Karena itu, agar pulang tanpa tangan hampa, ia mengambil Rasulullah saw. yang yatim itu sebagai anak susuannya.

Keberadaan Muhammad mungil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya. Setelah dua tahun, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Karena sadar bahwa keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada kampungnya, Halimah memohon Aminah agar Muhammad kecil diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad. Aminah setuju.

Muhammad cilik dikembalikan ke Mekkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Dua malaikat datang menghampiri Rasulullah saw. dengan membawa bejana dari emas berisi es. Mereka membelah dada Rasulullah saw. dan mengeluarkan hatinya. Hati itu dibedah dan dikeluarkan gumpalan darah yang berwarna hitam. Kemudian dicuci dengan es. Setelah itu dikembalikan seperti semula. Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikan Muhammad kecil kepada ibunya.

Aminah dan Abdul Muthallib Wafat


Muhammad kecil pun tinggal bersama ibunya. Ketika berusia 6 tahun, Muhammad cilik dibawa ibunya mengunjungi paman-pamannya dari Bani Adi bin Najjar di Yatsrib (yang kemudian hari berubah nama menjadi Madinah). Dalam perjalanan ini Aminah wafat di Abwa dan dikuburkan di sana.
Kemudian Muhammad cilik diasuh kakeknya, Abdul Muthallib. Namun tak berlangsung lama, hanya 2 tahun. Abdul Muthallib wafat ketika Rasulullah saw. berusia 8 tahun. Rasulullah saw. kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Perjalanan ke Syam

Abu Thalib pergi berdagang ke Syam. Keponakannya, Muhammad, ikut serta. Kafilah dagang ini tiba di Kampung Busra. Mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira.
Bahira tahu tentang ajaran Nasrani dan ia paham betul tentang ciri dan sifat Rasul terakhir yang diberitakan oleh Nabi Isa a.s. Bahira melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, keponakan Abu Thalib. Ia menasihati Abu Thalib agar segera membawa pulang keponakannya dan waspada dengan orang-orang Yahudi.

Menikah Dengan Khadijah

Ketika berusia 25 tahun, Rasulullah saw. pergi ke Syam membawa barang dagangan milik Khadijah. Rasulullah saw. ditemani pembantu pria kepercayaan Khadijah bernama Maisaroh. Maisaroh memberi informasi kepada Khadijah tentang sifat-sifat Rasulullah saw.

Kemudian setelah kembali ke Mekkah, Muhammad muda menikah dengan Khadijah. Saat dinikahi Muhammad muda, Khadijah bersatus janda. Dari pernikahan ini Muhammad dan Khadijah mendapatkan beberapa orang anak. Ada riwayat yang mengabarkan Rasulullah saw. dikaruniai 2 orang anak lelaki dari Khadijah, yaitu Qasim dan Abdullah. Namun keduanya meninggal sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Rasulullah saw. juga mendapat anak-anak perempuan dari Khadijah, yaitu Zainab, Ruqayyah, dan Ummi Kulsum. Mereka mengamalkan Islam dan meninggal sebelum Rasulullah wafat. Sedangkan putri bungsu Rasulullah saw. dari Khadijah adalah Fathimah. Fathimah meninggal 6 bulan setelah Rasulullah saw. wafat.

Berkhalwat di Gua Hira


Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad suka menyendiri di Gua Hira. Ini dikarenakan ia begitu membenci paganisme, agama kaumnya, dan setiap perbuatan keji yang dilakukan kaumnya. Di Gua Hira Muhammad beribadah kepada Rabbnya.

Membangun Ka’bah

Ketika Muhammad menginjak usia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk membangun kembali Ka’bah yang rusak. Saat proses peletakan kembali Hajar Aswad, para kabilah Quraisy bersengketa. Mereka masing-masing merasa paling berhak melakukannya. Selisih pendapat ini sampai pada puncaknya. Mereka siap saling berperang.

Tapi, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan orang yang pertama kali masuk dari pintu masjid sebagai hakim yang memutus perkara mereka. Dan orang yang muncul pertama kali dari masjid adalah Muhammad. Mereka serempak mengatakan, “Ini dia Al-Amin. Kami ridha dengannya!”

Kemudian Muhammad meminta sehelai selendang, lalu ia ambil hajar Aswad dan meletakkannya dengan tangannya sendiri. “Setiap kabilah hendaknya mengambil sisi-sisi selendang ini lalu angkatlah bersama-sama,” begitu katanya kemudian. Setelah diangkat hingga dekat dengan tempatnya, Muhammad mengangkat dan meletakkan dengan tangannya sendiri Hajar Aswad di tempat yang seharusnya. Dan pembangunan itu pun selesai dengan semua kabilah merasa senang. (Mochamad Bugi) dakwatuna.com

Sejarah Bangsa-Bangsa Arab


Menurut bahasa, Arab artinya padang pasir. Jazirah dibatasi laut merah dan gurun Sinai di sebelah barat, disebelah timur dibatasi laut arab yang bersambung dengan laut India, di sebelah utara dibatasi negeri syam dan sebagian kecil dari negara iraq, sekalipun terdapat perbedaan dalam penentuan batas ini. Jazirah Arab hanya dikelilingi oleh gurun dan pasir dari segala sudutnya yang merupakan benteng yang kokoh, Karena kondisi itulah yang memungkinkan bangsa Arab tidak terjajah oleh dua Imperium Besar Romawi dan Persia.

Keturunan arab tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Nabi Ibrahim yang membuka pertama kali kehidupan di Hijaz yaitu didekat Baitul Haram. Sudah diketahui Bahwa Nabi Ibrahim AS Hijrah dari Iraq ke Haran, termasuk ke Palestina, dan menjadikan negeri itu sebagai pijakan dakwahnya. Beliau banyak menyusuri negeri ini dengan setitik harapan, hingga akhirnya beliau sampai ke Mesir. Fira’un Penguasa Mesir saat itu merencanakan siasat buruk terhadap istri beliau Siti Sarah , Namun Allah justru mengembalikan Jeratan itu ke lehernya. Hingga akhirnya Firaun tahu kedekatan Siti Sarah dengan Allah. Untuk itu dia menghadiahkan putrinya sendiri, Hajar untuk menjadi Pembantu Sarah, Sebagai pengakuan terhadap keutamaan Sarah, dan akhirnya Sarah mengawinkan Hajar dengan Ibrahim.

Ibrahim as kembali ke Palestina dan Allah menganugerahkan Ismai’l dari Hajar. Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim untuk melenyapkan hajar dan putranya yang masih kecil, Ismail. Maka beliau membawa keduanya ke Hijaz, rasa gundah menggelayuti pikiran Ibrahim, Beliau menoleh kekiri dan kekanan, lalu meletakkan putranya ke dalam tenda, tepatnya didekat mata air zam-zam. Saat itu di Makkah tak ada satupun manusia dan tidak ada mata air. Beliau meletakkan geriba, wadah air didekat Hajar dan Isma’il,juga korma. Setelah itu Beliau kembali lagi kePalestina. Beberap ahari tak lama kemudian, bekal dan air telah habis, sementara tak ada mata air yang mengalir. Tiba-tiba mata air Zam-zam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi keduanya.
Suatu Kabilah dari Yaman (Jurhum kedua ) datang disana, dan atas perkenan Ibu Ismail mereka menetap disana,. sebelum itu mereka sudah biasa melewati jalur Makkah. Ada yang mengatakan mereka sudah ada disana sebelum itu, menetap dilembah-lembah pinggir kota Mekkah. Adapun riwayat Al Bukahry menegaskan bahwa mereka singgah di Makkah setelah kedatangan Ismail dan Ibunya, sebelum Ismai’l remaja. Mereka sudah biasa melewati jalur Makkah sebelum itu.

Sebelum remaja Ismail belajar bahasa Arab dari Kabilah Jurhum. Karena merasa tertarik kepadanya, maka mereka mengawinkannya dengan salah seorang wanita dari golongan mereka. Saat itu Ibu Ismail telah meniggal dunia.
Suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya, Maka beliau datang setelah pernikahan itu. Tatkala tiba dirumah Isma’il, beliau tidak mendapatkan Isma’il. Maka belaiu bertanya kepada Istrinya, bagaimana keadaan mereka berdua. Istri Ismail mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat. Maka Ibrahim menitip pesan, agar Istrinya menyampaikan kepada Isma’il untuk merubah palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Ismai’l mengerti maksud pesan Ayahnya. Maka Ismai’l menceraikan Isterinya dan kawin lagi dengan wanita lain, yaitu putri Mudhah bin Amr, pemimpin dan pemuka Kabilah Jurhum.
Setelah perkawinan Ismail yang kedua ini Ibrahim datang lagi namun tidak bisa bertemu dengan Isma’il. Beliau bertanya kepada istri Isma’il keadaan mereka berdua. Jawaban Istri Ismail adalah pujian kepada Allah. Lalu Ibarahim menitip pesan untuk Isma’il untuk mengokohkan palang pintunya, kemudian kembali ke Palestina.
Pada kedatangan ketiga Ibrahim bertemu dengan Ismail yang sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon dekat sumur zam-zam. Tatkala melihat ayahnya, Ismail berbuat selayaknya seorang anak yang lama tidak bersua Ayahnya. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama. Dengan adanya pertemuan ini mereka sepakat untuk membangun Ka’bah, meninggikan sendi-sendinya, dan Ibrahim memperkenankan orang berhaji sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada beliau.
Dari perkawinannya dengan putri Mudhah, Ismail dikaruniai anak oleh Allah sebanyak dua belas, yang semuanya laki-laki, yaitu: Nabat atau Nabayuth, Qidar, Adbai’l, Mabsyam, Masyama, Duma, Misya, Hadad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman.dari mereka inilah kemudian menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Makkah untuk sekian lama. Pokok pencaharian mereka adalah berdagang, membentang dari Negeri Yaman hingga ke Syam dan Mesir.Selanjutnya Kabilah-kabilah ini menyebar di berbagai penjuru Jazirah, bahkan keluar Jazirah. Seiring dengan perjalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi kecuali anak keturunan Nabat dan Qidar.
Peradaban anak keturunan Nabat bersinar di Hijaz utara. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai daerah-daerah disekitarnya, menjadikan Al-Bathra sebagai Ibukotanya. Tak seorang pun berani memusuhi mereka hingga datang pasukan Romawi yang melindas mereka.
Sedangkan anak keturunan Qidar bin Ismail tetap menetap di Makkah, beranak pinak disana hingga menurunkan adnan dan anaknya Ma’ad. Dari merekalah Keturunan Arab Adnaniyah dapat dipertahankan keberadaannya. Adnan adalah kakek ke dua puluh dua dalam silsilah keturunan Nabi SAW.Antara Adnan sampai Ibrahim ada empat puluh keturunan yang didasarkan pada penelitian yang mendetail.
Keturunan Ma’ad dari anaknya Nizar telah berpencar kemana-kemana menurut suatu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma’ad . Sedangkan Nizar sendiri mempunyai empat anak, yang kemudian menjadi empat kabilah besar, yaitu Iyadh, Anmar, Rabi’ah dan Mudhar. Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Dari Rabi’ah ada Asad bin Rabi’ah, Anzah, Abdul Qais, dua anak Wa’il, Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.
Sedangkan Kabilah Mudhar berkembang menjdai dua suku yang besar, yaitu Qais Ailan bin Mudhar dan Marga-marga Ilyas bin mudhar. Dari Qais Ailan ada bani Sulaim, Bani Hawazin, Bani Gathafan. Dari Gatahafan ada Abs, Dzibyan,Asyja dan Ghany bin A’shar. Dari Ilyas bin Mudhar ada Tamim bin Murrah, Huzail bin mudrikah, Bani Asad bin khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin khuzaimah. Dari Kinanah ada Quraisy, yaitu anak Keturunan Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah.
Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, Makhzum, Taim,Zuhrah, dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu abdur-dar bin Qushay, Asda bin Abdul uzzabin Qushay dan abdi Manaf bin Qusay.
Abdi Manaf mempunyai empat anak : abdi Syams, Naufal,Al Muthalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih Allah bagi Muhammad bin Abdullah bin Abdul muthalib bin hasyim. Rasulullah pernah bersabda :
“Sesungguhnya Allah telah memilih Ismai’l dari anak Ibrahim, memilih Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari bani Kinanah, Memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari bani Hasyim” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Kelahiran dan Pengasuhan Rosulullah SAW


Rasulullah SAW dilahirkan ditengah keluarga bani Hasyim di Mekkah pada senin pagi, tanggal 9 Rabiul Awwal, permulaan tahun dari peristiwa gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatn dengan tanggal 20 atau 22 april tahun 571 M, berdasarkan penelitian ulama terkenal, Muhammad sulaiman Al Manshurfury dan peneliti astronomi Mahmud Basya.
Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya Abdul Muthalib, nama tersebut belum pernah dikenal di kalangan Arab. Beliau di khitan pada hari ketujuh, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab.
Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah, hamba sahaya Abu lahab, yang kebetulan sedang menyusui anaknya Masruh, yang sebelum itu wanita ini juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib, Setelah itu dia Menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al Makhzumy.
Tradisi yang berjalan di kalangan bangsa arab yang relative maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih Bahasa Arab. Maka Abdul Muthalib mencari para wanita yang bisa menyusui bagi beliau. Dia meminta kepada seorang wanita bani Sa’d bin Bakr yang menyusui beliau, yaitu Halimah bin Abu Dzua’ib, dengan didampingi suaminya, Al-Haritz bin Abdul Uzza, yang berjuluk Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.
Halimah bisa merasakan barakah yang dibawa oleh Nabi Muhammad, sehingga mengundang decak kagum. Halimah dan Suaminya pergi keMekkah bersama Rombongan wanita dari Bani Sa’d, tujuan mereka mencari anak yang bisa disusui. Saat itu adalah masa Paceklik, dalam perjalanan sepanjang malam bayi Halimah menangis terus karena kelaparan, air susunya tidak bisa diharapkan. Sesampainya di Mekkah setiap wanita ditawari Bayi Nabi Muhammad SAW tapi semuanya menolak, setelah tahu bahwa beliau adalah anak Yatim. Ketika Semua wanita telah mendapatkan bayi yang akan disusuinya hanya Halimah yang belum mendapatkan bayi, ketika rombongan bergegas akan pulang, Halimah langsung menghampiri bayi Yatim Muhammad SAW dan membawanya.Puting susunya yang tadi kering langsung berisi dapat langsung diminum oleh bayi Muhammad dan bayi Halimah yang selalu menangis kelaparan, sebentar saja kedua bayi itu tertidur karena kenyang.Onta tua milik Halimah sebelumnya tidak bersusu tapi ternyata saat itu airsusunya menjadi penuh dan meminumnya hingga puas. malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi mereka berdua.
Sesampainya tiba di tempat tinggal mereka keberkahan terus menerus melingkupi kehidupan mereka, tanah-tanah mereka menjadi subur, domba-domba mereka bertambah gemuk, dan susu dari ternak-ternak mereka melimpah ruah, sedangkan keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan warga sekitarnya, Bahkan setelah dua tahun Halimah mengasuh Rosul, dia meminta lagi kepada Ibunda Rosul untuk tetap mengasuhnya hingga dewasa, sampai ketika terjadi peristiwa pembelahan dada Rosul pada waktu umur Rosul mencapai empat tahun barulah kemudian Halimah menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada ibunya.
Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rosulullah didatangi Jibril, yang pada saat itu beliau sedang bermain-main. Dengan beberapa anak kecil lainnya. Jibril menelentangkan beliau, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “ini adalah bagian syetan yang ada pada dirimu.” Lalu Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas, dengan menggunakan air Zam-zam, kemudian menata dan memasukkannya ketempat semula. Anak-anak kecil berlarian mencari ibu susuan dan berkata.” Muhammad telah dibunuh!” Namun ketika mereka mendapatkan Muhammad, ternyata beliau dalam keadaan sehat dan wajahnya tampak lebih berseri.
Setelah Nabi kembali kepangkuan Ibundanya,tak berapa lama ibunya Aminah mengadakan perjalanan ke Yastrib guna mengunjungi makam suaminya Abdullah,Ayah dari Nabi Muhammad SAW, disertai pembantunya Ummu Aiman mereka menempuh perjalanan sekitar 500km. Setelah menetap selama sebulan di Madinah, Aminah dan rombongannya siap-siap kembali ke Mekkah. Dalam perjalanan pulang itu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Abwa, yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib di Makkah, Hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang, yang tidak pernah dirasakannya sekalipun terhadap anaknya sendiri. Dia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan dia lebih mengutamakan cucunya daripada anak-anaknya.
Pada usia delapan tahun lebih dua bulan sepuluh hari dari umur Rosulullah SAW, kakek beliau meninggal dunia di Makkah. Sebelum meninggal, Abdul Muthalib sudah berpesan menetapkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya Abu thalib, saudara kandung bapak beliau.
Abu thalib melaksanakan hak saudaranya dengan sepenuhnya dan menganggap seperti anaknya sendiri. Bahkan Abu thalib lebih mendahulukan kepentingan beliau daripada anak-anaknya sendiri, mengkhususkan perhatian dan perhormatan. Hingga berumur lebih dari empat puluh tahun beliau mendapat kehormatan di sisi Abu thalib, hidup dibawah penjagaannya, rela menjalian persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela diri beliau.

Sepucuk “Hidayah” Buat Seorang Sahabat


“Celakalah Khalid. Semoga tuhan Romawi melaknatnya.” Sumpah serapah itu keluar dari mulut Argenta seraya menarik tali kekang kudanya meninggalkan medan perang yang masih berdebu. Samar-samar terlihat ribuan tentara Romawi mulai mengambil langkah seribu.


Argenta masih terengah-engah menahan lelah setelah seharian bertempur. Jiwanya masih terguncang menghadapi kenyataan pahit kekalahan pasukannya, ditambah lagi sebuah peristiwa tragis masih membekas di pelupuk matanya. Ketika Argenta harus menyudahi duel mautnya melawan orang yang selama ini amat disegani, seorang jenderal, panglima perang sekaligus seorang sahabat yang selama ini menjadi atasannya. Gregorius Theodorus, panglima Romawi yang menjadi muslim tewas di ujung pedang bawahannya sendiri, Argenta.
“Lari, ini instruksi Kaisar Heraklius!!! Kita harus mundur ke Armenia. Berlindung dengan pasukan panah.” Margiteus resah. Topi besi yang menutupi kepalanya melorot sepertiganya. Upaya evakuasi itu sungguh melelahkan.

“Apa yang terjadi dengan Gregorius?”

“Dia sudah mati.”

“Oh, malang benar orang itu.”

Dia seorang muslim,” imbuh Margiteus getir sambil mengusap-usap pedang panjangnya.

“Hah, mustahil. Mana mungkin! Dia seorang Kristiani yang taat.”

“Aku telah membunuhnya.” Argenta terduduk lesu

“Cuma aku kesal dan menyesal, kenapa bisa seorang panglima ulung yang pernah dimiliki bangsa Romawi harus mati di ujung mata pedangku.”

“Siapa yang akan menggantikannya?”

“Wardan.”

“Hah!!? Orang itu tahu apa tentang perang!” Argenta merasa sangat kecewa.

“Dia veteran perang wilayah tengah dulu. Kaisar Heraklius yang memberi restu.”

“Bodoh benar! Kenapa posisi strategis diberikan kepada veteran yang sakit. Orang itu tahunya cuma bagaimana bisa kabur. Si Pengecut itu mana mungkin mampu menahan gempuran pedang orang Islam.”

Bunga-bunga api terpecik dari ranting kering yang coba disulut Argenta. Bara api menjalar-jalar hampir menyentuh sepatu kulit lembunya yang berdebu tebal.

“Kita pernah menaklukkan sepertiga dunia. Tapi kita kalah dari orang-orang Khalid yang berperang tanpa baju besi. Ini salah siapa? Merekakah yang kuat atau kita terlalu lemah!?”

“Mereka tak takut mati. Mereka menyukai mati seperti halnya kita menyukai hidup ini.”

“Kau pernah melihat Khalid.”

“Pernah. Dua kali. Pertama sewaktu aku melakukan tugas pengintaian di Parsi. Kedua saat dia bertarung dengan Gregorius sebelum dia memeluk Islam.”

“Berjanjilah atas kebenaran wahai sahabatku, Margiteus. Apakah begitu gagah manusia bernama Khalid itu?”

“Pernahkah kau mendengar cerita para tentara Romawi mengenai kegagahan Khalid.” Margiteus tersenyum getir. Dia menghela nafas, lesu sambil melempar pandangan jauh ke gugusun bintang-bintang yang menghias cakrawala.

Argenta mengerutkan keningnya. Rasa ingin tahunya menyelinap ke seluruh penjuru batok kepalanya. Menumbuhkan tanda tanya.

“Tuhan mereka telah menurunkan sebilah pedang dari langit kepada Nabi Muhammad lalu diserahkannya kepada Khalid. Dan setiap kali Khalid menarik pedangnya dia menjadi perwira tidak terkalahkan. Tiada lawan yang dapat mengalahkannya sehingga mendapat gelar ‘Pedang Allah’ dari Nabinya.”

Argenta terpana sendirian. Kagumnya menelusup mendengar cerita-cerita yang selama ini menjadi gunjingan teman-teman seperjuangannya. Malah menjadi igauan para kaisar di imperium Romawi.

Bagaimanakah para tentara Parsi yang berbesi pemberat di kaki, agar mereka tidak lari dari medan perang, namun bisa hancur luluh oleh pasukan Khalid? Dia telah menguasai jalur perniagaan di kota Tadmur dan menguasai Qaryatain di wilayah Homs. Kemudian satu persatu wilayah Syria jatuh ke tangan mereka. Hawarin, Tsaniat-Iqab dan Busra. Semua lebur. Porak poranda. Hancur. Pasukan semut menumpaskan bala tentara gajah. Musibah apakah yang tengah menimpa imperiumku ini?

“Pedang Allah, dongengmu memang hebat. Mungkin hanya aku seorang dari ribuan pejuang Romawi yang tidak mempercayainya.” Ketus Argenta menahan amarah. Margiteus sudah bangun dari tidurnya, dia menyarungkan pedangnya ke sisi kuda perang yang tengah asyik memamah santapan rumput hijau. Margiteus tampak lesu. Mungkin sesuatu yang berat sedang dipikirkan. Episode perang esok, entah apa yang akan terjadi?

***

Perang di bumi Yarmuk bertambah hebat tatkala masuk hari kedua. Ada prestise yang perlu dipertahankan. Pasukan perang Romawi sekuat tenaga mempertahankan Syria, wilayah kekuasaannya di sebelah timur. Sementara para pejuang Islam membawa misi membebaskan Syria dari cengkeraman pejajahan Romawi di samping tugas berat menyebarkan dakwah Islamiah.

Khalid dengan lantang menggelorakan semangat jihad. Semangat jihad yang bagaikan suatu keajaiban telah dapat mengalahkan 240.000 pasukan Romawi walau hanya dengan kekuatan 39.000 tentara Islam yang berani berkorban demi agama mereka.

Argenta menjadi gentar dan seperti tak bernyali lagi menghadapi kehebatan tentara Islam yang terus menggempur, menyerbu dan merangsek bagaikan air bah yang pantang surut. Namun bukan berjiwa ksatria namanya kalau harus menerima begitu saja kenyataan pahit itu. Tatkala Argenta merasakan ada titik-titik kelemahan dari tentara Islam disitulah upaya serangan balik dilakukan. Mereka menghantam sayap kiri dan sayap kanan barisan kaum muslimin. Sementara pertempuran semakin memanas, Margiteus seperti tak terlihat kehadirannya di sana, dia lenyap dalam hiruk pikuk Yarmuk.

“Wahai tentara Romawi, rekan-rekanku pembela kaisar yang setia. Perang ini adalah perang tanding satu tentara Khalid lawan enam pasukan Romawi. Kalian bukan anak-anak Romawi kalau mati di tangan mereka yang sedikit dan lemah itu.” Argenta meniup semangat pasukannya.

Medan pertempuran semakin bergolak, kepulan debu, dentingan pedang seakan tak pernah berhenti. Sesekali terdengar jeritan satu dua tentera meregang nyawa, dalam erangan panjang yang memilukan. Ya! Perang memang sesuatu yang kejam, seperti tak ada ruang untuk diberi belas kasihan. Benarlah, dalam perang rasa kemanusiaan seakan sudah mati!

“Kaisar Heraklius melarikan diri ke Constantinople.” Teriak salah seorang tentara Romawi di tengah berkecamuknya perang itu. Laungan teriakan itu timbul tenggelam seakan ditelan kalutnya pertempuran, nyaris tidak diketahui dari mana asal suara itu. Hal ini menjadi hantaman dahsyat yang meredupkan semangat juang para tentara Romawi. Seorang Kaisar merangkap panglima tertinggi melarikan diri! Tragis!!! Suatu tindakan sangat pengecut, setidaknya itu yang ada di benak Argenta.

Dampaknya mulai terasa, luar biasa. Tentara Romawi mulai gentar. Mereka tidak lagi memiliki garis komando di medan tarung itu. Daya tempur merosot drastis. Mereka mulai berhitung bila melanjutkan perang, nyawa melayang atau menjadi tawanan tentara Islam. Akhirnya banyak diantara mereka yang memilih undur diri. Nyawa lebih penting!

“Bukan kaisar saja yang begitu. Semua panglima sama saja. Membiarkan tentaranya bertempur di barisan depan. Sementara mereka mengambil posisi di barisan belakang. Mereka dapat dengan leluasa melarikan diri. Mengapa mereka menjadi penakut seperti itu. Ingat! Kita berjuang demi Romawi dan diri kita sendiri. Bukan demi Kaisar.” Argenta memprotes semangat pasukan Romawi yang mulai luntur.

“Jangan coba-coba durhaka kepada Kaisar. Kaisar banyak tugas yang harus ditunaikan. Kita dalam keadaan terjepit sekarang. Tidak ada yang mengatur strategi. Apatah lagi mendeteksi taktik musuh dan memompa semangat para tentara. Kita terpaksa mundur juga.” Sergah seorang tentara menegur Argenta yang merasa kecewa. Rasa iba muncul dalam dirinya. Diakui memang sukar mencari tipikal prajurit Romawi sekaliber Argenta kini. Tapi apalah daya, sedangkan Kaisar sendiri melarikan diri. Apalah yang diharapkan para tentara kini, yang mereka tahu hanya menjunjung perintah. Tanpa jati diri yang teguh.

“Perhatian! Perhatian! Tentara Khalid menyerang dari belakang!” Teriakan itu membuyarkan lamunan para tentara Romawi itu. Argenta mulai beringsut dibelakang kuda warna coklat gelap, mencoba membalap kuda tentara tersebut.

“Lihat di medan sana.” Argenta menoleh sambil memastikan letak yang ditunjuk itu. Dari kejauhan peperangan masih berlangsung walaupun tidak sehebat tadi karena banyak tentara Romawi yang sudah melarikan diri. Yarmuk bergolak lagi.

“Kenapa? Ada apa?”

“Lihatlah manusia yang paling di depan di kalangan mereka. Itulah Khalid.” Bola mata Argenta gesit membidik sasarannya. Terekam kegagahan Khalid di kelopak matanya. Khalid sedang melaju dengan kudanya. Paling terdepan dan paling piawai berkuda. Dia menangkis setiap hambatan di depannya sambil melaungkan kalam Allah, mengobarkan jihad para pejuangnya. Dia menebas leher-leher musuh. Baginya tak mengenal kamus mundur atau pun takut. Mengapa tidak ada perwira Romawi seperti dia?”

“Ketua mereka bertempur paling depan tetapi mengapa bukan Kaisarku yang bertempur paling depan. Inikah yang dikatakan pembela rakyat dan penerus imperium Romawi. Kini tidak saja terdengar kebobrokan orang-orang Istana di Eropa, tapi juga semuanya telah menular ke seluruh pelosok dunia. Pemerintahan Tiranik! Pemeras airmata dan darah rakyat. Apakah ini balasan Tuhan kepada imperium Romawi?”

Tanpa sadar air mata Argenta menetes. Inilah perasaan terhina yang baru pertama kalinya dirasakan. Kecintaannya kepada Romawi sangat tinggi. Ketaatannya kepada Kaisar tiada berbagi. Mengapa harus dibayar pengorbanan para tentaranya dengan sikap pengecut para atasannya. Kuda dipacu Argenta secepat-cepatnya. Biarlah kesengsaraan ini harus ditanggung terbang bersama deru angin. Dia pasrah. Samar-samar terlihat kota Damascus berdiri megah. Apakah kota ini sekokoh dulu? Argenta makin terbawa dalam lamunannya.

Pasukan Romawi kalah telak di tangan kaum muslimin. Mereka kehilangan 50,000 orang tentaranya. Rata-rata mereka mencari perlindungan di Damascus, Antokiah dan Caesarea serta ada juga yang turut mabur bersama Kaisar Heraklius ke Constantinople. Pertempuran sehari itu meninggalkan satu catatan buruk dalam sejarah perang Romawi yang sulit dihapus dalam sejarahnya. Mereka harus bertekuk lutut dengan pasukan yang bilangannya jauh kecil dengan peralatan perang yang jauh tertinggal dibanding mereka.

***

Pasukan Romawi semakin terdesak. Kota Damascus dengan mudah jatuh ke pangkuan kaum muslimin. Kota itu diserbu tatkala Raja Jabala IV  mengadakan jamuan kelahiran anak lelakinya. Khalid bersama beberapa orang tentara Islam berhasil memanjat tembok kota sekaligus membuka pintu gerbang al-Syarqi dan al-Jabiat. Panglima Vartanius yang mengepalai tentara Romawi di Kota Damascus terpaksa melarikan diri ke Homs bersama sisa-sisa tentaranya. Raja Jabala IV terpaksa mengirim utusan damai dan memilih membayar jizyah kepada kaum muslimin. Argenta melarikan diri ke Antokiah.

“Argenta, ada surat dari sahabatmu, Margiteus,” Seorang lelaki yang telah berumur memberikan sepucuk surat kepada Argenta. Langsung wajah Margiteus membayangi hampir seluruh pikirannya di pagi yang cerah di Antokiah. Bukankah Margiteus sudah ditawan di Yarmuk dulu? Dia masih belum mati?

Argenta,

Sungguh pun surat ini mungkin menimbulkan tanda tanyamu tapi percayalah aku di sini senantiasa sehat dan sentosa di bawah lindungan Allah.

Aku masih hidup. Aku tidak seburuk yang kau gambarkan. Aku diberi makan sebagaimana makanan mereka. Aku tidak dikuliti atau dibelenggu kaki dan tangan untuk diinterogasi. Mungkin dengan inilah menyebabkan aku mengenal Allah swt yaitu Tuhanku dan juga Tuhanmu walau waktunya mungkin sangat singkat.

Sahabatku, aku tidak dalam tekanan. Aku tidak dalam keadaan dipaksa sebagaimana biasa dilakukan pemerintah Romawi yang menyeret paksa rakyat dengan kuda karena menunggak pajak. Ada ketenangan di sini sehingga aku bisa mengenal siapa sesungguhnya diriku, tujuan hidup dan agamaku yang satu. Semuanya jelas dan terbentang indah di benak sanubari ini.

Argenta,

Khalid tidak sekejam yang kau gambarkan. Dia mungkin keras dan garang di medan juang. Tapi dia masih mampu mengulur roti kepada tawanan yang tahu arti menghormati. Raut mukanya tenang menyiratkan keteduhan jiwanya, hal itulah yang membuat siapa saja tidak menyangka kalau dia itu Khalid, panglima Islam paling agung. Percayalah!

Kau ingat juga kan dongeng tentang Khalid? Pedang yang konon diturunkan dari langit. Itu semua dusta. Mungkin itu hanya cerita para penakut yang muncul dari para lawan tarungnya setiap kali berhadapan dengan pedangnya. Pedang Khalid hanya besi yang ditempa seperti pedang lain. Tidak ada yang istimewa. Khalid dahulu juga seperti kita. Dia penentang Islam dan Rasulnya. Setelah mendapat hidayah dia beriman. Gelar Pedang Allah hanyalah doa Nabi Muhammad ke atasnya bahwa dia adalah pedang di antara sekian banyak pedang Allah, terhunus buat menghadapi orang musyrik. Nabi Muhammad mendoakan agar Khalid senantiasa menang di setiap perang yang diikutinya.

Argenta,

Kau tentu bertanya apa yang menyebabkan aku memilih Islam. Bukan saja karena kebenaran ajarannya tetapi karena keluhurannya. Aku bertanya pada Khalid. Bagaimana kedudukanku seandainya aku memeluk Islam dibanding dengan dirinya yang sudah bertahun-tahun memeluk Islam. Jawabannya sama saja di sisi Allah malah mungkin lebih mulia darinya sebaik ungkapan syahadah di bibir dan diyakini di dalam hati. Aku sungguh takjub. Sampai sebegitukah? Tanyaku mana mungkin jadi seperti itu. Kata Khalid dia pernah hidup bersama Nabi dan menyaksikan keajaiban dan petanda keRasulan dan kebenarannya sedangkan orang setelahnya dapat menerima Islam walaupun tidak pernah menyaksikan dan berjumpa dengan Baginda, maka tentunya dia lebih mulia.

Mungkin kau menuduhku sebagai pengagum Khalid. Mungkin tuduhanmu itu benar. Tapi percayalah aku mengagumi perjuangannya bukan jasadnya. Cintanya sangat tinggi kepada Allah dan Rasulnya. Itulah yang membuatnya tidak gentar menghadapi musuh. Dia ingin benar mati di medan perang. Tidak seperti kita yang sungguh takut akan kematian karena kecintaan kepada dunia ini. Aku bertanya-tanya. Kalau begitulah kondisi Khalid. Tentu sungguh agung sekali agama dan pegangan yang dianutnya. Dia setia, jujur, luhur, optimis dan seorang genius perang. Sesuatu yang sukar dicari dalam diri kita sendiri.

Argenta,

Sudilah aku menyeru kepadamu ke jalan kebenaran yang hakiki. Aku tahu selama ini kau dibelenggu ketaatan kepada Romawi. Aku masih sayang akan Romawi seperti juga kau. Islam tidak memisahkan kita dengan Romawi. Islam bukannya milik bangsa Arab. Di sini aku ketemu orang-orang hitam dari benua Afrika yang selama ini kita anggap hanya layak mengangkat tahi para petinggi kita, atasan kita. Di sini segalanya sama lantas inilah yang menyadarkan aku tentang arti kemuliaan insan yang tidak kita temui di Romawi.

Kita tetap sahabat. Agamaku tidak memutuskan rasa kasihku kepadamu. Kau tetap seorang sahabat yang akan ku kenang selagi hayat ini di kandung badan. Cuma aku harap persahabatan ini lebih manis kiranya dapat kau membuka hatimu menerima hidayah-Nya. Semoga Allah menemukan kita, sahabat. Wassalam.

Margiteus

Argenta meremas surat itu di tangan. Ada kepedihan menjalar ke ulu hatinya. Sakit dan perih. Apakah ini benteng egoisme paling tinggi yang berusaha ditahannya atau gelombang pembelotan dari sahabat sejatinya. Argenta mengepalkan tangan membiarkan tulang temulang jarinya berderap.

***

Pasukan Islam menuju utara Syria yang dipertahankan Kaisar Heraklius. Kota Homs jatuh bertekuk lutut sebagaimana pasukan Romawi di Balbek ditumpas abis. Bertempurlah kaum muslimin di kota Aleppo yang terkenal sangat tangguh pertahanannya selama berabad-abad.  Allah menolong kaum muslimin dengan kemenangan yang dijanjikan-Nya. Pasukan Romawi akhirnya mundur ke benteng terakhir di Antokiah. Tentara Romawi diperintah membuat serangan habis-habisan mempertahan kota. Mereka digempur habis-habisan oleh pasukan Khalid.

Argenta memerah keringat di medan perang. Dia mengayunkan pedangnya sesuka hati. Tidak berpikir lagi sabetan itu kena musuh atau kawan. Hatinya terbagi dua. Satu sisi terbetik di hatinya kebenaran kata-kata Margiteus tetapi egoismenya masih mengatasi segala-galanya.

“Argenta! Kuasa Allah telah menemukan kita.” Argenta menoleh. Ditatapnya manusia di hadapannya. Gagah dengan (niqob) cadar hitamnya. Darah yang mengalir di sekitar kening menyulitkannya mengenal dengan pasti orang bercadar itu. Pedang berukir matahari menyadarka tanda tanya Argenta.

“Kau Margiteus”

“Apa kabar sahabatku.” Margiteus tersenyum menatap sahabatnya. Argenta merasa terpukul dengan ketenangan yang tergambar di wajah sahabatnya itu. Nampak jelas dia bahagia sekali dengan kehidupannya kini. Penuh keyakinan.

“Pembelot, kau mengkhianati bangsa Romawi,” Argenta berusaha memancung kepala Margiteus. Margiteus tenang menahan diri. Mereka saling beradu pedang. Sesekali pedang mereka bersilang. Margiteus dengan tenang terus mendakwahi sahabatnya.

“Berimanlah kepada Allah, sahabatku. Kau bis berdamai dengan pihak Islam bila bersepakat membayar jizyah kecali bila tidak mampu membayarnya. Kami berjanji akan memberimu perlindungan. Kau tetap menjadi sahabatku. Romawi tetap megah bahkan akan lebih bersinar dengan cahaya Islam.”

“Diam, pembelot!” Argenta naik pitam. Mereka bertarung hingga melelahkan.

“Jangan menipu diri sendiri Argenta. Jangan mendustai hidayah yang Allah turunkan padamu. Apakah akan kau biarkan rasa congkak dan egomu menguasai dirimu?” Margiteus tidak putus-putus mendakwahi.

“Percayalah ucapanku. Kebenaran itu sudah kau temukan dalam dirimu. Cuma kau masih ragu-ragu padahal dia sudah jelas di depan mata. Lihatlah dunia yang kita arungi ini. Adakah karena Romawi megah seperti yang kau banggakan. Adakah karena Romawi yang dibohongi dengan mitos dan kemustahilan menyekat nur ilahi yang ada pada dirimu. Bangunlah sahabat.”

“Tutup mulutmu atau aku akan penggal kepalamu menjadi makanan anjing-anjing Kaisar,” amuk Argenta semakin menjadi-jadi. Dia seakan tengah melawan rasa bersalah yang dipendamnya. Benarkah dia membohongi dirinya. Kalau dia benar mengapa hatinya memberontak. Menjerit meminta kebebasan dan kebenaran. Ah…, aku benci semua ini!

Dalam keadaan termangu-mangu pedang Argenta terdesak ke tepi. Memberi peluang terbuka bagi Margiteus untuk menebas kepala Argenta. Argenta terbeliak memperhatikan mata pedang Margiteus jatuh tepat di hadapan mukanya. Tangan Margiteus menggigil. Dia berusaha mengelak dan ini memberi peluang kepada Argenta mencuri kemenangan. Perut Margiteus ditusuk hingga tembusi ke belakang badannya. Darah memuncraut bersimbah ke muka Argenta. Rasa sesal menjalar merasuki naluri Argenta. Lantas dia merangkul Margiteus yang hampir tersungkur. Kedua-duanya melemah. Lesu.

“Lepaskan saja aku, Argenta. Uhh…. . Bukankah aku pembelot Romawi dan mengkhianati persahabatan kita?”

“Kau dapat memancung kepala aku tadi. Mengapa tidak kau lakukan? Aku lebih rela mati. Aku merasa sungguh bosan dan benci diriku sendiri.”

“Tahukah kau dalam Islam… membunuh seorang manusia itu bagaikan membunuh seluruh umat manusia. Kami dibenarkan membunuh orang yang menentang agama kami secara kekerasan. Itupun kepada yang mengangkat senjata. Tidak boleh terjadi pembunuhan terhadap anak-anak, wanita dan orang tua serta yang uzur…. Ohhh”

“Akulah yang menentang kau dan agamamu. Mengapa kau tidak membunuhku saja.”

“Apakah ada pedang Romawi yang paling berat melainkan pedangku ini. Pedang yang terpaksa aku jauhkan dari leher seorang sahabat sejati. Betapa pedih kau mendustai dirimu, tapi lebih pedih lagi diriku yang memikirkan persahabatan ini. Aku tak mampu menyisihkannya. Aku berdosa terhadap agamaku… Allahhh…”

“Tidak, Margiteus. Agamamu adalah kebenaran yang ku cari. Cuma aku khawatir kau sudah melupakan persahabatan kita. Aku terlalu egois. Aku menipu diriku sendiri! Aku menipu kau wahai sahabat! Maafkan aku.”

“Cukuplah kau tahu betapa dalamnya persahabatan ini. Ingatlah, dalam Islam kemanusiaan itu tidak hilang meskipun dalam peperangan. Kita bertemu karena Allah dan berpisah juga karena-Nya. Kalau kau mengasihiku. Inilah aku yang kau lihat akan mati. Kalau kau mencintai kehormatan dan kemegahanmu semua itu juga akan lenyap dan binasa. Tapi seandainya kau mencintai Allah, Dia sesungguhnya tidak pernah mati ataupun binasa….”

“Sungguh Margiteus. Aku bersumpah dengan nama tuhanmu. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Apakah aku akan membohongi diriku lagi di saat kau begini..?”

Margiteus menahan perih luka tusukan pedang di lambungnya. Dirasakannya luka tusukan itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tersenyum mendengar keimanan Argenta. Perlahan-lahan jasadnya kaku mengiringi lafaz syahadah di mulutnya. Argenta terisak meratapi sahabatnya. Perang dirasanya sunyi. Sepi.

Sumber: Seri Sahabat Nabi, Khalid Al-Walid & Abu Hurairah, K Publishing & Distributors Sdn. Bhd., Kuala Lumpur, 1990

www.dakwatuna.com